Antara Irjen dan Malang


Sekelumit cerita di Malang kumulai dari perjalananku ke Malang. Sempat mengubah jadwal keberangkatan karena ada hal yang harus aku lakikan di Kemenag Boyolali. Setelah pengubahan jadwal dan acara di Boyolali selesai lanjut ke Stasiun Balapan Solo. Dengan berderai airmata mengingat yang sudah saya lakukan sebelumnya. Naik grab sampai stasiun Balapan hanya airmata yang bicara. Lebih satu jam perjalanan ternyata terlelap setelah merenungi semua yang terjadi. "Bahwa hidup memang sebuah perjalanan panjang". Dibangunkan driver grab " Ibuk sudah sampai Balapan" terkantuk kujawab. Njih Mas. Dengan langkah gontai menahan lapar masuklah ke stasiun Balapan. Masih berpikir panjang perjalanan yang akan saya lalui hari itu. Berpikir juga telat mengikuti acara. Semua campur aduk. Sambil  menunggu jadwal keberangkatanku ke Surabaya , kuambil snak yang belum kumakan saat oertemuan dengan Irjen di Kemenag Boyolali. 

Beberapa saat kemudian masuk di jalur 1. Naiklah kereta Argo Semeru. Di dalam kereta hanya termenung . Teringat pertanyaan Irjen yang mengintrogasi tadi. Seakan terngiang-ngiang sampai tak bisa memicingkan mata sebentar pun. Padahal perjalanan sampai Surabaya lebih 4 Jam. Terus melaju mengikuti laju kereta api. Sesekali memejamkan mata namun tetap tidak bisa. Akhirnya dengan merebahkan diri di sandaran kursi aku tetap memuja dan memuji bahwa apa yang ditanyakan IRJEN tadi jadi kenyataan. Menikmati stiap klakson dan hentian setiap stasiun kereta api akhirnya sampai Surabaya. 

Sesampainya di Surabaya harus melanjutkan lagi perjalanan sekitar 3 jam untuk sampai Lokasi pertemuan. Perjalanan ke Malang ditemani Dr. Prastyo dari UNDIP pakar Si Cerdik. Meskipun pertemuan ini terjadi karena faktor ketidak sengajaan. Senang sekali ada barengan sampai Malang. Meski hotel tujuan beda namun kami sama acaranya.


Jarak tempuh yang lumayan agak lama dari perkiraan awal karena macet di beberapa titik. Driver Citytrans menawarkan untuk lewat jalur tol. Kami pun mengiyakan saja meskipun harus tambah ongkos Tol dari harga biasa. Karena demi acara tidka terlambat. Hampir 3 jam perjalanan sampailah di Hotel Grand Mercure Mirama Malang. Hotel nan megah ini seakan menyambutkan dengan ramah. Tapi suasana hatiku masih terbayang dengan Irjen yang mengintrogasiku siang tadi. Sampai hotel langsung dapat pelukan dari kawan-kawan literasi. Sepertinya mereka ingin mendengar ceritaku mengapa dipanggil Irjen dan apa hasilnya? Namun mereka melihat aura lelahku tak smapai hati menyuruhku bercerita.



 

Belum lama duduk disodori baju seragam literasi membaca warna hijau Botol. Masih ingat sesungging senyuman" bunda silakan bajunya dipakai" dengan riang kusambut senyuman oula sambil mengucap terima kasih. Tak lama kemuadian saya ke toilet dan segala ritual di kamar mandi . Baju hijau botol akhirnya terpakai. Setidaknya bisa menyeka lelah dan oenat setelah cuci muka di kamar mandi. 

Selang beberapa saat masuklah di ballroom untuk mengikuti acara kembali. Seorang teman menanyaiku kembali" bund bocori sitik hasil dari pertemuan dengan Irjen" dengan senyum dan mata berkaca " doakan aku ya bes" kita pun saling berpelukan. 

Menjadi pengalaman yang tak terlupakan pengalaman ini. Lika liku perjalanan, harus batal lewat Purwodadi, harus batal lewat Stasiun Malang, dan banyak lagi kekecewaan yang terbungkus yang tak perlu aku sampaikan. Yang pasti bahwa setiap perjalanan panjang adalah pembelajaran yang harus dikaji dan di renungi. Terima kasih Malang. Kota yang dua klai inj kusambang dengan kawan-kawan AKMI menjadi saksi pertemuan dan airmata syukur. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jenaku sayang Jenaku Malang

Januariku 2024